Lonjakan Industri Nikel Indonesia Picu Risiko Kegagalan Katastrofik, Earthworks Soroti Bahaya Tailing
Bacanesia.com,JAKARTA-Perluasan pesat industri nikel di Indonesia, ditambah penerapan teknologi pengolahan baru, dinilai menciptakan kondisi yang berpotensi memicu kegagalan infrastruktur berskala katastrofik. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru yang dirilis oleh Earthworks.
Laporan bertajuk “Tailing yang Difilter di Indonesia: Kegagalan Katastrofik dari Teknologi Disruptif” menyimpulkan bahwa laju perkembangan industri yang sangat cepat tidak diimbangi dengan regulasi yang memadai. Kondisi ini disebut telah berkontribusi pada kematian pekerja, risiko keselamatan bagi masyarakat, pencemaran air, hingga potensi kerugian yang lebih besar di masa depan.
Direktur Program Pertambangan Earthworks, Ellen Moore, menegaskan perlunya langkah tegas untuk menjamin keselamatan, Kamis (26/3/2026).
“Untuk memastikan keselamatan para pekerja tambang dan masyarakat setempat, kita perlu menghentikan produksi secara tegas untuk sementara waktu,”ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa tidak boleh ada penambahan limbah baru ke fasilitas penyimpanan tailing sebelum ada jaminan keselamatan dari perusahaan dan pemerintah.
Lonjakan Produksi dan Risiko Limbah Beracun
Dalam periode 2015 hingga 2024, produksi nikel Indonesia melonjak drastis dari 130.000 ton menjadi 2,31 juta ton per tahun. Pangsa Indonesia dalam produksi global pun meningkat tajam dari 5,7 persen menjadi 62,26 persen.
Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya permintaan global, terutama untuk bahan baku baterai kendaraan listrik.
Sebagian besar peningkatan produksi berasal dari tujuh fasilitas High-Pressure Acid Leaching (HPAL), yaitu teknologi yang menggunakan tekanan tinggi, suhu ekstrem, dan asam sulfat untuk mengekstraksi nikel dari bijih kadar rendah.
Namun, teknologi ini menghasilkan limbah dalam jumlah sangat besar. Untuk setiap satu ton nikel yang dihasilkan, sekitar 133 ton tailing ikut diproduksi.
Tailing dari proses HPAL mengandung asam sulfat yang bersifat sangat korosif, beracun, dan sulit dikelola, sehingga meningkatkan risiko terhadap lingkungan dan keselamatan manusia.
Peringatan Risiko Bencana
Direktur Yayasan Tanah Merdeka, Richard Labiro, menyebut kondisi fasilitas tailing saat ini sangat mengkhawatirkan.
“Di Indonesia saat ini, fasilitas tailing pada dasarnya adalah bencana yang sudah ‘dirancang’. Risiko dan volume limbah beracun ini sangat besar dan terus meningkat,”ujarnya.
Seraya menambahkan, dampak dari kondisi tersebut telah dirasakan langsung oleh pekerja, masyarakat sekitar, dan lingkungan hidup. Sejak 2015, lebih dari 40 pekerja dilaporkan meninggal akibat kondisi kerja yang tidak aman angka yang disebut hanya berasal dari satu kawasan industri nikel.
Menurutnya, sudah saatnya pemerintah dan perusahaan mengambil langkah serius dalam pengelolaan tailing untuk mencegah potensi bencana yang lebih besar.(*)



Tinggalkan Balasan