Cokaiba Bukan Sekadar Topeng, Generasi Muda Fagogoru Diajak Menelusuri Jejak Leluhur

Zubair S. Muin Rifa sadjidin
Potret Cokaiba dalam Bingkai Fagogoru, Kamis (20/8/2026) ist.

Bacanesia.com, HALTIM-Upaya merawat sejarah dan kebudayaan masyarakat Fagogoru terus dilakukan melalui ruang-ruang dialog yang melibatkan generasi muda. Salah satunya melalui kegiatan FastCokaiba Buli Islam Vol 1 yang dirangkaikan dengan Bacarita Sejarah Cokaiba, di Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara.

Kegiatan tersebut digagas oleh Karang Taruna Buli Karya bersama Karang Taruna Teluk Buli dengan mengusung tema “Potret Cokaiba dalam Bingkai Fagogoru: Mengakar pada Tradisi, Bertumbuh Menjadi Peradaban”.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk kembali menggali sejarah, nilai budaya, serta identitas masyarakat Fagogoru di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat.

Bagi masyarakat Fagogoru, tradisi Cokaiba memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah dan kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, Cokaiba dinilai tidak cukup dipahami sebatas simbol atau pertunjukan budaya, tetapi perlu ditempatkan dalam konteks sejarah dan nilai yang melatarbelakanginya.

 

Menggali Sejarah dan Makna Cokaiba

Dalam sesi Bacarita Sejarah Cokaiba, panitia menghadirkan dua pemateri untuk mengupas Cokaiba dari perspektif sejarah, budaya, dan spiritualitas.

Abdul Samad Addin pemateri bertajuk “Cokaiba : Perjalanan Spiritual Berbasis Budaya”. Sementara Julfian Hi. Usman menyampaikan materi “Menelusuri Jejak Leluhur: Memaknai Nilai dan Meneguhkan Identitas”.

Abdul Samad mengajak peserta melihat Cokaiba sebagai bagian dari perjalanan panjang masyarakat Fagogoru. Menurutnya, kebudayaan tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan terbentuk melalui pengalaman, keyakinan, serta perjalanan masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sementara itu, Julfian mengajak peserta menelusuri sejumlah catatan sejarah tentang masyarakat Fagogoru, termasuk catatan bangsa Eropa yang pada masa lalu menggambarkan masyarakat Fagogoru dari sudut pandang mereka.

Catatan tersebut kemudian menjadi bahan refleksi mengenai bagaimana sejarah ditulis dan bagaimana masyarakat lokal perlu memiliki ruang untuk menceritakan sejarah serta identitasnya berdasarkan pengetahuan dan warisan leluhur.

Pembahasan juga mengangkat narasi mengenai perjalanan Cokaiba yang dikaitkan dengan hubungan Kesultanan Tidore dan Kesultanan Cirebon. Jejak perjalanan tersebut disebut masih hidup dalam syair “Bon Mayo”, yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi.

Tradisi lisan itu menunjukkan bahwa sejarah masyarakat tidak hanya tersimpan dalam dokumen tertulis, tetapi juga hidup melalui syair, cerita leluhur, ritual, simbol, dan berbagai bentuk kebudayaan lainnya.

Cokaiba Bukan Sekadar Simbol

Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa Cokaiba bukan sebutan untuk seluruh masyarakat Fagogoru. Cokaiba merujuk pada pasukan bertopeng yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah dan kebudayaan Fagogoru.

Karena itu, Cokaiba dinilai tidak tepat jika hanya dipandang sebagai atraksi atau tontonan. Di dalamnya terdapat nilai sejarah, budaya, spiritualitas, serta identitas yang perlu dipahami oleh generasi muda.

Ketua Panitia FastCokaiba Buli Islam Vol. 1, Hizbullah I. Maneke, mengatakan pertemuan antara Maulid, Cokaiba, dan sejarah Fagogoru penting untuk terus dibicarakan, terutama di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi di Halmahera Timur.

Menurut Hizbullah, agama dan kebudayaan tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus mampu menjadi sumber kesadaran masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

“Kita merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW karena kita mencintai beliau. Tetapi kecintaan itu jangan berhenti pada perayaan. Nabi datang membawa pesan pembebasan. Beliau berdiri bersama manusia yang tertindas, melawan kesewenang-wenangan dan mengembalikan martabat manusia,”ujar Hizbullah.

Ia juga mengingatkan generasi muda Fagogoru agar tidak hanya mempertahankan bentuk Cokaiba, tetapi juga memahami nilai dan sejarah yang terkandung di balik tradisi tersebut.

“Jangan sampai kita lebih hafal jumlah nikel di tanah kita daripada sejarah tanah kita sendiri. Jangan sampai kita bangga karena Halmahera Timur dikenal dunia, tetapi kita sendiri tidak lagi mengenal siapa leluhur kita,” tegasnya.

Tradisi di Tengah Perubahan Zaman

Pernyataan tersebut menjadi refleksi terhadap perubahan yang tengah berlangsung di Halmahera Timur. Perkembangan investasi dan industri, termasuk sektor pertambangan, membawa perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Namun, perkembangan tersebut juga menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan ruang hidup, tanah, identitas, dan keberlanjutan budaya lokal.

Dalam konteks itu, Cokaiba tidak cukup hanya ditempatkan sebagai simbol masa lalu. Tradisi tersebut dapat menjadi ruang refleksi bagi generasi sekarang untuk memahami sejarah, memperkuat identitas, sekaligus menentukan arah masa depan.

Begitu pula peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Momentum tersebut tidak hanya dimaknai sebagai perayaan kelahiran Rasulullah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk kembali menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

FastCokaiba Buli Islam Vol. 1 pada akhirnya menjadi ruang perjumpaan antara agama, sejarah, budaya, dan generasi muda.

Cokaiba bukan sekadar topeng. Ia merupakan bagian dari narasi perjalanan leluhur yang perlu terus dipelajari dan diwariskan.

Sementara Maulid bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk merefleksikan kembali nilai-nilai kenabian dalam kehidupan masyarakat.

Dari tradisi yang diwariskan, lahir kesadaran untuk menjaga identitas. Dari kesadaran itulah, kebudayaan dapat terus tumbuh dan berkembang menjadi peradaban.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini