Ketua Karang Taruna Desa Subaim Kecam 2 Perusahaan Tambang di Haltim Cemari Lahan Tani
Bacanesia.com,HALTIM-Dampak limbah dua perusahaan tambang di Desa Subaim, Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara mengakibatkan pencemaran lahan sawah dan petani kelapa terancam.
Dua perusahaan diantaranya, PT JAS dan PT ARA yang beroperasi di wilayah Kecamatan Wasile.
Perihal tersebut disampaikan Ketua Karang Taruna Baabmalao Desa Subiam, Arman Ebit mengecam keras PT JAS dan PT ARA serta mendesak agar dapat bertanggung jawab.
“Dampak limbah sediment yang masuk ke persawahan dan perkebunan, bukan hanya petani sawah tetapi petani kelapa juga,”tegasnya, Minggu (9/11/2025).
Arman meyebut, perihal yang dirasakan dari dampak limbah sediment dari dua perusahaan tersebut menjadi tantangan besar produktivitas pertanian dan perkebunan di daerah subaim.
“Kurang lebih 14 hektar kebun kelapa milik warga Desa Subaim yang berada di hilir Sungai Muria tercemar limbah perusahaan, ini mengakibatkan menurunnya kesuburan tanah, dan menyebabkan pohon kelapa tidak lagi produksi optimal,”jelasnya.
Seraya menambahkan, Kecamatan Wasile tak hanya menjadi lumbung pangan, namun terdapat beberapa komunitas, salah satunya kopra yang berasal dari kelapa.
Sama halnya yang disampaikan Bupati Halmahera Timur terkait pengembangan hilirisasi tanaman komoditas lokal salah satunya kelapa yang menghasilkan kualitas kopra yang baik.
Namu kehadiran perusahaan tambang justru tidak memperhatikan upaya pemerintah daerah pada bidang pertanian dan perkebunan.
Ibrahim Husen salah seorang petani kelapa menambahkan, bahwa ia selalu melaporkan kepada komdef perusahaan dan Pemerintah Desa Subaim apabila ditemukan limbah yang masuk di dalam perkebunan.
“Setiap ada limbah yang masuk ke perkebunan, kami sudah melaporkan ke pihak komdef perusahaan dan Pemerintah Desa Subaim, namun sampai sekarang tidak ada tanggapan,”terangnya.
Dengan nada kecewa, Ibrahim menyebutkan kelapa miliknya seluas 3 hektare lebih dengan jumlah pohon kelapa sebanyak 400 pohon.
“Saya menggarap kebun kelapa ini dari tahun 1980 sampai sekarang. Hasil panennya sebelum terdampak limbah perusahaan itu, saya pane 2 ton kopra, namun setelah terkena dampak hasilnya menurun hingga 1 ton kopra itu pun terkadang tidak sampai,”ujarnya.
Berbeda dengan hasil yang dipanen akhir-akhir ini, karena sekarang sudah tidak mencapai 400 pohon kelapa, karena sudah 50 pohon kelapa yang telah mati.
“Yang masih hidup untuk siap dijadikan kopra itu sekitar 100 pohon, sementara buahnya tidak lagi produktif akibat pencemaran tanah merah milik perusahaan,”tandasnya.(*)
Penulis: Zubair Salim Muin


Tinggalkan Balasan