Arman Buamonabot Sentil Kongres IV HPMS, Transisi Substantif Atau Sekadar Seremonial ?

Bacanesia.com Rifa sadjidin
ORGANISASI: Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula (HPMS) Cabang Ternate, Maluku Utara, Arman Buamonabot, Jumat (2/1/2026) ist

Bacanesia.com,SANANA-Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula (HPMS) Cabang Ternate, Maluku Utara, Arman Buamonabot angkat bicara terkait rencana pelaksanaan Kongres IV HPMS).

Arman mengatakan, keinginan untuk melakukan perubahan di tubuh Pengurus Pusat HPMS telah lama muncul, namun hingga kini justru ditemukan sejumlah kejanggalan dalam kerja-kerja panitia kongres tersebut.

Menurut Arman sapaan akrab Ceo menyebut pada prinsipnya HPMS di tingkat cabang tidak memiliki persoalan mendasar, selama PP HPMS mampu memberikan kejelasan dan kepastian organisasi kepada seluruh cabang, Jumat (2/1/2026).

Namun kenyataannya, selama kurang lebih 14 tahun, HPMS Cabang Ternate justru menjadi pusat konflik kepentingan yang bersumber dari kebijakan PP HPMS.

Kemudian konflik tersebut berdampak serius hingga menimbulkan perpecahan di internal HPMS Cabang Ternate. Perpecahan itu diperparah dengan terbitnya sejumlah Surat Keputusan (SK) dari PP HPMS yang dinilai tidak sesuai dengan mekanisme dan prosedur organisasi.

“Dalam upaya menyukseskan Kongres IV HPMS yang dijadwalkan pada 11 Januari 2026, kami memiliki perspektif yang berbeda. Secara organisasi, PP HPMS dan panitia seharusnya memberikan pertimbangan yang objektif, khususnya terhadap HPMS Cabang Ternate,”katanya.

Seraya menambahkan, kongres semestinya dimaknai sebagai upaya penyatuan dan perbaikan organisasi, baik di tingkat PP HPMS maupun di seluruh cabang agar tidak memperdalam konflik yang sudah ada.

Arman kemudian memaparkan sejumlah catatan kritis. Pertama, menurutnya, tidak seharusnya lagi ada penerbitan SK cabang di seluruh Indonesia menjelang kongres, karena hal tersebut menimbulkan kesan terjadi konsolidasi yang dipaksakan demi kepentingan kandidat tertentu.

Kedua, panitia kongres harus bersikap objektif terhadap kondisi HPMS Cabang Ternate, sehingga mampu menjadi penengah bagi dua kepengurusan cabang yang sama-sama memiliki legal standing organisasi. Ketiga, panitia tidak boleh merasa paling peduli terhadap perbaikan organisasi.

“Kerusakan organisasi bukan berada di tingkat bawah, melainkan di PP HPMS. Jika panitia merasa paling berjuang atas terselenggaranya kongres, menurut kami itu keliru. Selama ini, yang paling getol mendorong pelaksanaan kongres justru para birokrat, sebagian akademisi, dan politisi,”tegasnya.

Dirinya menyatakan, apabila tujuan kongres adalah perubahan, maka panitia wajib melibatkan seluruh pengurus cabang, baik Cabang Ternate maupun cabang-cabang lainnya. Dengan begitu, kongres tidak dikendalikan oleh segelintir elite yang selama ini justru membiarkan HPMS terpuruk selama belasan tahun.

Secara organisasi, Arman menegaskan bahwa pemilihan Ketua PP HPMS yang baru harus menjadi momentum bagi seluruh cabang untuk bertemu, menyampaikan evaluasi, serta mengungkapkan kekecewaan atas praktik PP HPMS selama ini, sekaligus menentukan arah baru organisasi. Oleh karena itu, keterlibatan seluruh cabang dalam kerja-kerja panitia merupakan hal yang mutlak.

“Kami hanya menginginkan kongres yang layak sebagai jawaban atas kevakuman HPMS selama puluhan tahun. HPMS tidak membutuhkan reformasi setengah-setengah, melainkan revolusi total demi masa depan yang lebih baik,”imbuhnya.

“Kami tidak membutuhkan transisi simbolik, melainkan dialektika perubahan yang substantif. HPMS tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama, karena tidak ada manusia yang mau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya,”tandasnya.(*)TR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini