PMII Malut Kecam Ajudan Bahlil Lahadalia Didugaan Pukul Wartawan, Minta Golkar Evaluasi Arifin Jafar

Zubair S. Muin Am Aswad
Foto Ilustrasi, Senin (13/4/2026)

Bacanesia.com,TERNATE-Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Maluku Utara mengecam keras dugaan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh ajudan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, terhadap seorang jurnalis di Ternate.

Peristiwa tersebut terjadi saat kegiatan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Ternate. Insiden bermula ketika sejumlah wartawan melakukan sesi wawancara dengan Menteri ESDM.

Kejadian berlangsung usai pembukaan acara, tepatnya sekitar pukul 15.20 WIT, di area pintu keluar Gamalama Ballroom, Hotel Bella, Ternate, Minggu (12/4) kemarin.

Situasi berubah tegang ketika salah satu ajudan diduga menarik dan kemudian memukul seorang wartawan.

Korban diketahui bernama Fandi Atim, jurnalis media online Haliyora.id. Ia mengaku mengalami pemukulan di bagian tulang rusuk kanan.

Ketua PKC PMII Maluku Utara, Muhammad Fajar Djulhijan, menyampaikan kecaman keras atas tindakan tersebut. Ia menilai tindakan kekerasan terhadap jurnalis merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap kebebasan pers.

Menurut Fajar wawancara merupakan bagian penting dalam kerja jurnalistik untuk memperoleh informasi yang akurat dan berimbang. Ia juga menegaskan bahwa profesi jurnalis memiliki peran penting dalam sejarah bangsa.

“Ringan sekali tangan ajudan itu. Wartawan diperlakukan seperti preman. Padahal jurnalis adalah profesi mulia yang berperan besar dalam perjalanan kemerdekaan bangsa,” tegasnya, Senin (13/4/2026).

Ia menilai tindakan ajudan mencerminkan sikap arogan dan minim pemahaman terhadap nilai-nilai demokrasi dan kebebasan pers.

Selain itu, Ketua PKC PMII menyoroti pernyataan Ketua Panitia Musda, Arifin Jafar, yang meminta agar insiden tersebut tidak dibesar-besarkan. Menurutnya, sikap tersebut terkesan membungkam dan tidak berpihak pada korban.

Ia menilai, sebagai Sekretaris DPD Partai Golkar Maluku Utara, Arifin seharusnya menunjukkan sikap tegas terhadap dugaan pelanggaran hukum, bukan justru melindungi pelaku.

PKC PMII Maluku Utara pun mendesak Bahlil Lahadalia untuk segera mengambil langkah tegas dengan mengevaluasi bahkan memberhentikan ajudan yang terlibat dalam insiden tersebut.

Fajar juga meminta agar Menteri ESDM menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik atas kejadian tersebut.

Tak hanya itu, PKC PMII juga mendesak Partai Golkar untuk segera melakukan evaluasi terhadap Arifin Jafar atas pernyataannya yang dinilai tidak mencerminkan komitmen terhadap kebebasan pers.

“Jangan sampai posisi ajudan menteri membuat hukum terkesan tumpul. Golkar juga tidak boleh terlihat takut untuk mengevaluasi kadernya sendiri,”tandasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini