Catatan Kopi Pagi, Ekonomi Stagnan Pasar Murah Solusi ?

Bacanesia.com Rifa sadjidin
FOTO: Mohtar Umasugi, Kamis (25/12/2025) ist

Penulis: Mohtar Umasugi

Bacanesia.com,SANANA-Pagi di Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara selalu datang dengan cara yang sederhana. Secangkir kopi hitam di meja, angin laut yang pelan, dan pasar yang mulai bergerak pelan-terkadang terlalu pelan untuk disebut hidup. Dari kejauhan, deretan kios terbuka, tetapi tak semuanya ramai. Beberapa pedagang hanya duduk, menunggu, sambil berharap ada pembeli yang singgah. Dari pemandangan kecil inilah, saya kembali bertanya: ke mana perginya perputaran uang di negeri ini?

Ekonomi kita seperti berjalan di tempat. Tidak jatuh, tetapi juga tak benar-benar melangkah. Harga sembako terus naik, sementara pendapatan masyarakat tetap di titik yang sama. Beras, minyak goreng, gula, dan kebutuhan dapur lainnya menjadi topik harian di obrolan warga-bukan karena kelimpahan, tetapi karena kekhawatiran.

Daya beli menurun, bukan sebab orang enggan berbelanja, melainkan karena kemampuan memang semakin terbatas, Kamis (25/12/2025).

Di tengah situasi itu, pemerintah daerah hadir dengan jawaban yang sudah sangat kita kenal: pasar murah. Setiap momentum tertentu, pasar murah digelar. Spanduk dipasang, antrean terbentuk, dan masyarakat pulang dengan senyum tipis-senyum lega yang sayangnya hanya bertahan sesaat. Karena setelah itu, harga kembali normal, bahkan sering kali lebih tinggi, dan kehidupan berjalan seperti semula.

Pasar murah memang bukan kebijakan yang salah. Ia membantu masyarakat bertahan dalam tekanan. Tetapi dari sudut pandang refleksi pagi ini, pasar murah lebih mirip jeda, bukan jalan keluar. Ia menenangkan, tetapi tidak menyembuhkan. Ia meringankan beban hari ini, tetapi tidak menjawab kekhawatiran esok hari. Pertanyaannya kemudian sederhana namun mendasar: sampai kapan kita bergantung pada solusi sesaat?

Masalah ekonomi stagnan tidak sesederhana soal mahalnya barang. Ia berkaitan erat dengan tersendatnya sumber penghidupan. Ketika uang tidak berputar, itu pertanda aktivitas ekonomi produktif tidak berjalan optimal. Petani masih menjual hasilnya dengan harga yang tidak menentu, nelayan berhadapan dengan biaya operasional tinggi tanpa kepastian pasar, sementara UMKM berjalan sendiri tanpa pendampingan yang konsisten. Dalam kondisi seperti ini, pasar murah hanya menyentuh permukaan persoalan.

Di titik inilah pekerjaan rumah pemerintah daerah menjadi nyata, terutama bagi Kepala Bagian Perekonomian dan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi. Dua posisi ini sejatinya adalah jantung kebijakan ekonomi daerah. Bukan sekadar mengatur agenda, tetapi merancang arah. Ketika masyarakat terus menunggu pasar murah, itu pertanda bahwa strategi pemberdayaan ekonomi belum bekerja sebagaimana mestinya.

Pemberdayaan yang tersendat bukan semata soal keterbatasan anggaran, melainkan soal arah kebijakan. Potensi lokal sering disebut, tetapi jarang dipetakan secara serius. Program UMKM digulirkan, tetapi tidak berkelanjutan. Bantuan modal ada, namun tanpa pendampingan dan akses pasar. Akibatnya, usaha rakyat tumbuh sebentar, lalu layu sebelum berkembang. Ekonomi lokal pun berjalan di tempat.

Sambil mengaduk kopi yang mulai pahit, saya membayangkan seandainya kebijakan ekonomi dibangun dengan keberanian berpikir jangka panjang. Bukan hanya menjual murah, tetapi memastikan masyarakat mampu membeli dengan hasil keringat sendiri. Bukan hanya membagi sembako, tetapi menciptakan ekosistem usaha yang membuat sembako itu bisa dibeli tanpa rasa cemas. Di situlah letak perbedaan antara kebijakan populis dan kebijakan yang berpihak.

Pasar murah seharusnya ditempatkan sebagai langkah darurat, bukan tumpuan utama. Ia ibarat payung saat hujan, bukan rumah untuk berteduh selamanya. Jika terus dijadikan solusi utama, kita sedang mengakui bahwa ekonomi kita tidak pernah benar-benar disembuhkan. Dan itu adalah pengakuan yang terlalu mahal untuk sebuah daerah yang kaya potensi.

Catatan kopi pagi ini bukan untuk menolak pasar murah, tetapi untuk mengingatkan bahwa ekonomi rakyat membutuhkan lebih dari sekadar harga yang diturunkan sesaat. Ia membutuhkan pekerjaan, kepastian usaha, dan kebijakan yang membuat uang berputar dari kampung ke kampung, dari pasar ke pasar.

Sebab pada akhirnya, yang dibutuhkan masyarakat Sula bukan antrean panjang di pasar murah, melainkan keyakinan bahwa esok hari bisa dijalani dengan lebih tenang. Dan tugas menghadirkan ketenangan itu, bukan berada di cangkir kopi saya pagi ini, tetapi di meja kebijakan mereka yang diberi amanah mengelola ekonomi daerah.(*)TR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini