Beni Pramula di Iftar OIC Youth: Pemuda Muslim Jadi Perekat di Tengah Dunia yang Terfragmentasi
Bacanesia.com,JAKARTA-Dewan Pembina OIC Youth Indonesia, Beni Pramula, memberikan orasi kebudayaan yang menggugah dalam acara Iftar gathering strengthening connectivity and values-based smart power for tolerance and harmony in the Islamic world yang diselenggarakan di Aula gedung pusat Dakwah PP Muhammadiyah Jakarta.
Kegiatan strategis ini merupakan kolaborasi antara Kedutaan Besar Republik Azerbaijan untuk Republik Indonesia, OIC Youth Indonesia, dan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PP Muhammadiyah.
Hadir dalam acara tersebut Duta Besar Azerbaijan untuk Indonesia, H.E. Ramil Rzayev, Ketua LDK PP Muhammadiyah, Muchamad Arifin, M.Ag, serta Presiden OIC Youth Indonesia, Astrid Nadya Rizqita, Jumat (6/3/2026).
Dalam pidatonya yang bertajuk “Harmony Amidst the Fragments: The Youth as the Architect of Peace”, Beni Pramula menekankan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi krisis kemanusiaan yang hebat.
“Kita melihat peta dunia yang sedang berdarah tercabik oleh tembok kebencian dan api peperangan. Dari tragedi di Gaza, Iran, Israel, US hingga ketegangan di berbagai perbatasan, dunia sedang menangis meminta tangan yang menyembuhkan,” ujar Beni di hadapan para diplomat dan aktivis pemuda OKI.
Beni menyerukan agar pemuda Muslim tidak menjadi bagian dari fragmentasi global tersebut, melainkan menjadi “perekat” (the glue) yang menyatukan kembali potongan kemanusiaan yang hancur.
Ia memperkenalkan konsep values-based smart power sebagai kekuatan cerdas pemuda yang berakar pada karakter, dialog, dan nilai-nilai moderasi.
“Di dunia yang bising dengan genderang perang, pemuda harus menjadi pihak yang berbicara dalam bahasa harmoni. Kita bukan sekadar pemimpin masa depan, tapi kita adalah petugas tanggap darurat bagi perdamaian hari ini,” tegas mantan Presiden Pemuda Asia-Afrika.
Selain menyoroti isu global, Beni juga mengapresiasi hubungan diplomatik yang erat antara Indonesia dan Azerbaijan. Ia mendorong OIC Youth Indonesia untuk terus menggunakan diplomasi intelektual dan jejaring internasional mereka guna menyuarakan keadilan bagi kemanusiaan.
Menutup orasinya, Beni memberikan pesan simbolis tentang makna buka puasa bersama. “Jika kita bisa duduk rukun di meja makan ini, berbagi roti yang sama meski berbeda bangsa, seharusnya kita mampu membawa kerukunan yang sama ke panggung dunia.”
Acara ini diakhiri dengan komitmen bersama antara Kedutaan Azerbaijan, OIC Youth, dan Muhammadiyah untuk terus memperkuat konektivitas pemuda di dunia Islam demi terciptanya tatanan global yang lebih harmonis dan toleran.
Kegiatan ini diinisiasi oleh OIC Youth Indonesia bersama Kedutaan Besar Republik Azerbaijan dan LDK PP Muhammadiya untuk memperingati bulan suci Ramadan 1447 H, sekaligus memperkuat diplomasi smart power berbasis nilai di kalangan pemuda Muslim internasional.(*)


Tinggalkan Balasan